6 Fakta I-Doser 'Narkoba Digital' yang Mungkin Belum Kamu Ketahui
Kamu perlu tahu fakta-fakta I-Doser, 'narkoba digital' baru yang bakal bikin kamu tercengang. | via: youtube.com
Bintang.com, Jakarta Belakangan ini, I-Doser atau yang disebut-sebut sebagai 'narkoba digital' meresahkan
masyarakat. Banyak media online yang menyebutnya sebagai 'narkoba' yang
berbahaya. Pernyataan ini muncul karena adanya kasus di Amerika
Serikat. Tahun lalu, menurut situs Emirates247, Dubai pun sudah
memblokir situs-situs yang memasarkan aplikasi ini. Karena 'narkoba
digital' ini menurut mereka memberikan efek yang sama dengan ganja.
Asisten Kepala Polisi Dubai Pidana Urusan Investigasi, Mayor Jenderal
Khalil Ibrahim Al Mansouri mengatakan belum ada penelitian yang bisa
membuktikan kemanjuran 'narkoba digital' ini.
Sedangkan di Oklahoma, Amerika Serikat, banyak anak-anak yang kecanduan I-Doser,
salah satunya para murid sekolah Mustang High School. Sebenarnya, pihak
BNN kepada salah satu media online lokal mengatakan, belum bisa
dipastikan apakah aplikasi ini benar-benar punya efek yang sama dengan
ganja. Meskipun begitu, belum banyak orang yang tahu cara kerja I-Doser,
yang kini disebut-sebut 'narkoba' yang berbahaya. Bintang.com kali ini
akan membahas beberapa fakta mengenai I-Doser yang mungkin belum kamu
ketahui. I-Doser adalah produsen gelombang otak Binaural. Dalam
situs resminya, I-Doser merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi
gelombak otak Binaural yang bisa diputar pada pemutar CD dan MP3. Selain
itu I-Doser juga bisa digunakan pada ponsel dan komputer melalui
aplikasi yang mereka buat.
Para pengguana I-Doser memang disarankan untuk mendengarkan dengan kondisi mata tertutup dan ruang gelap. | via: youtube.comI-Doser dibuat dengan tujuan untuk memanipulasi suasana hati. Dalam sebuah e-book yang
bisa diiunduh dari situs resminya, I-Doser dibuat dengan tujuan untuk
memanipulasi suasana hati. Dengan memperdengarkan dua suara yang
fekuensinya mirip pada telinga konsumennya. Otak kemudian akan merespon
kedua suara tersebut dan menghasilkan suara ketiga yang disebut dengan binaural beat.
Para
pengguana I-Doser memang disarankan untuk mendengarkan dengan kondisi
mata tertutup dan ruang gelap. | via: lallavesombra.blogspot.comApa itu binaural beat? Binaural beat juga disebut dengan binaural tone, ditemukan oleh Heinrich Wilhelm Dove tahun 1839 yang kemudian booming pada abad 20. Binaural beat pada
era itu digunakan untuk relaksasi, meditasi, kreativitas. Suara ini
memberikan efek yang tergantung dari berapa frekuensinya. Frekuensi nada
harus berada di bawah 1.000 Hz dan perbedaan antara dua nada yang
dibuat untuk memancing respon otak harus kecil; kurang dari atau sama
dengan 30 Hz.
6 Fakta I-Doser 'narkoba digital' yang Mungkin Belum kamu Ketahui | via: youtube.comPenelitian Dove setelah dipublikasikan kemudian berlanjut. Penelitiannya
kemudian diterbitkan dalam jurnal ilmiah Repertorium der Physik.
Penelitian lanjutan dilakukan masih dengan tujuan memenuhi rasa ingin
tahu untuk keperluan ilmu pengetahuan. Hingga muncul "Auditory Beats in the Brain" tahun 1973 yang ditulis Gerald Oster. Oster dalam tulisannya mengatakan, binaural beat ini
bisa menjadi alat yang bagus untuk membantu penelitian tentang kognisi
dan neurologi. Karena dia menemukan bahwa orang-orang yang todak bisa
merasakan efek binaural beat ada kemungkinan menderita penyakit parkinson.
6 Fakta I-Doser 'narkoba digital' yang Mungkin Belum kamu Ketahui | via: binauralbeatsdrugs.comSelain penelitain Dove ternyata juga ada penelitian tentang efek dari binaural beat.Penelitian
ini dilakukan oleh seorang fisikawan Thomas Warren Campbell dan
insinyur listrik Dennis Mennerich, di bawah pengawasan Robert Monroe.
Monroe kemnudian menemukan bahwa ada efek lain yang disebebkan oleh
suara ini, yang berkaitan dengan sensasi yang dirasakan pendengar;
pengalaman 'keluar dari tubuh.' Kemudian Monroe membangun industri
teknologi binaural beat yang diberi nama The Monroe Institute.
6 Fakta I-Doser 'narkoba digital' yang Mungkin Belum kamu Ketahui | via: spiritual-awakening.netSebuah penelitian juga dilakukan pada tahun 2005 tentang binaural beat.Tiga
peneliti dari Inggris, R. Padmanabhan, A. J. Hildreth dan D. Laws
mempelajari apakah musik dan suara bisa menolong pasien-pasien yang
mengalami rasa cemas berlebih, sebelum menjalankan operasi. Mereka
kemudian menemukan bahwa binaural beat bisa menurunkan tingkat rasa cemas yang berlebihan yang terjadi sebelum pasien menjalankan operasi.
6 Fakta I-Doser 'narkoba digital' yang Mungkin Belum kamu Ketahui | via: youtube.com
Nah, itu dia enam fakta seputar I-Doser dan binaural beat
yang belakangan ini ramai diperbincangkan. Pihak BNN masih belum
memastikan apakah 'narkoba digital' ini benar-benar bisa membuat para
penggunanya berhalusinasi, persis dengan efek dari ganja. Untuk
megurangi rasa cemas, I-Doser ini jangan sampai digunakan oleh orang
yang belum paham terutama anak kecil.
Comments
Post a Comment